Sejarah Weni Kalla di Desa Tude (Puntaru) Kecamatan Pantar Tengah Kabupaten Alor
DOI:
https://doi.org/10.37216/afada.v3i2.2625Abstract
Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mendeskripsikan Cerita rakyat Sejarah Weni Kalla di Desa Tude (Puntaru), Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis untuk menggali dan merekonstruksi sejarah Weni Kalla. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat Bapak Mahlale Lama Koly. hasil yang di dapatkan dalam wawancara tesebut terjadilah pertengkaran hebat antara Bunanema dan Kallang Buri yang masing-masing mengakui dirinya sebagai putri Raja, dan mau menjadi permaisuri Raja Mai Wallang, pertengkaran di akhiri dengan perang tanding, Bunanema memegang alat tenun kain (tiang) dan duduk diatas lesung, sedangkan Kallang Buri yang mengaku dirinya putri Raja memegang kelewang dan duduk diatas moko pertama diberikan kepada Kallang Buri untuk membela atau memotong Bunanema. Ayunan kesatu, dua dan tiga tidak berhasil malahan kelewang yang dipakainya patah, kemudian giliran Bunanema untuk membelah atau memotong Kallang Buri, hanya dengan sekali ayunan kayu tenun Kallang Buri bersama moko yang didudukinya langsung terbelah menjadi dua bagian dan semua isi perutnya keluar. Kemudian Bunanema menikah dengan Raja Mai Wallang dan perkawinan mereka dikarunia seorang putra yang bernama Weni Kalla, pada suatu hari weni klla mencari belalang seekor belalang yang hinggap di dahan sebatang pohon terong, Weni Kalla langsung memanah belalang tersebut sebab belalang itu mencaci maki ayah dan ibunya. Kemudian Weni Kalla melaporkan kejadian tersebut kepada ayah dan ibunya, mereka langsung menuju ketempat kuburan dari Kallang Buri. Weni Kalla memanah belalang tersebut lagi dan ternyata belalang tersebut masih memaki ayah dan ibunya lagi mendengar itu sang ibu (Bunanema) mengambil busur dan panah milik Weni Kalla dan mematahkannya sehingga Weni Kalla langsung menangis dan tidak bisa dibujuk Akhirnya ibunya menawarkan botok dan tawaran itu diterima oleh Weni Kalla. Sementara ibunya menumbuk botok, sesuatu terjadi di ke Rajaan Kaila Wallang dimana air laut pun naik dan menenggelamkan ke Rajaan Kaila Wallang beserta isinya sampai sekarang ini. Ibu Weni Kalla yaitu Bunanema yang sementara menumbuk botok berubah menjadi batu dan sampai hari ini masih ada di dasar laut pantai Puntaru. Mahligai dan tiangnya yang dua belas batang juga masih ada sampai hari ini, botok yang ditumbuk oleh Ibunya Weni Kalla berubah menjadi pasir tiga warna yang unik yaitu berwarna putih bening, kuning emas dan hitam mengkilat yang hanya terdapat di Pantar Barat Puntara Desa Tude suku Tibe.





