Islam Sasak; Sebuah Manifestasi Fikih-Budaya
DOI:
https://doi.org/10.37216/maqosid.v11i1.3027Abstract
Dalam Islam, Fikih merupakan bagian terpenting dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam yang terkandung dalam al-Quran dan Hadits. Melalui Fikih, ajaran-ajaran Islam yang turun di Tanah Arab mampu meresap keberbagai bentuk kebudayaan yang pada dasarnya berbeda bentuk dengan kebudayaan orang-orang Arab itu sendiri. Ini bisa dilihat pada tradisi menggunakan Hijab yang hanya ada di Arab, namun bermetamorfosa menjadi tradisi berjilbab di Indonesia.
Di Indonesia, peran signifikan fikih dalam akulturasi ajaran-ajaran Islam dengan sebuah tradisi dalam kebudayaan lokal bisa dilihat pada perkembangan fikih diantara orang-orang Sasak di Lombok yang dikenal dengan ketaatannya dalam beragama dan juga kekuatan tradisi lokalnya. Diantara orang-orang Sasak, fikih dan kebudayaan adalah dual hal yang tidak bisa dipisahkan. Fikih menjadi dasar dari kebudayaan, dan sebaliknya, kebudayaan memberikann warna terhadap fikih itu sendiri.
Keywords; Islam, Fikih, Lombok,Waktu Lima, Wetu Telu.
Sasak adalah nama yang identik dengan penduduk asli Pulau Lombok, sebuah pulau yang terletak diantara Bali dengan Sumbawa. Pulau ini memiliki peta kebudayaan yang didominasi oleh resapan Budaya Budha-Hindu-Islam dan akulturasi budaya Hindu-Isam, utamanya pada bahasa dan adat istiadat.
Datangnya Islam di Lombok telah merubah bentuk budaya Hindu yang ada sebelumnya dan menciptakan keunikan budaya yang sangat kental religius-normatif, atau mengakulturasikan perspektif fikih dan ajaran-ajaran spiritual dalam tradisi lokal, suatu hal yang sangat berbeda dengan Islam Sinkretis di Jawa. Meski mengalami akulturasi yang bersifat religius-normatif, namun perbedaan Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima pada tataran historis dan bentuk telah membuat terkotak kotaknya sosiolog-antropolog yang meneliti Lombok, baik dari dari sisi budaya dan agama.
Timbulnya stigma dan dikotomisasi antara Islam Wetu Telu dan Waktu Lima menjadi tidak terhindarkan. Wetu Telu didentikkan dengan “Sinkretis” dan Waktu Lima sebagai Islam murni yang berdasarkan kepada Shariah. Padahal, perlu diingat bahwa tidak ada tahun yang pasti mengenai mana yang lebih dulu ada di Lombok, Islam Wetu Telu atau Islam Waktu Lima? Dan apakah makna dari Wetu Telu itu sendiri lebih menampilkan model Islam yang bernuansa kosmologis, daripada Islam ritual dan Islam normatif yang dijadikan sebagai inti dari perbedaan antara keduanya oleh para sosilog-antropolog yang meneliti Lombok.
Selain itu, pendekatan kebudayaan yang lebih menekankan aspek historis bisa menimbulkan amibigiutas makna religius-normatif pada masyarakat Lombok dan tidak mampu mengungkap pemahaman fikih para penganut Wetu Telu itu sendiri..
Untuk itu, pembahasan kembali mengenai sejarah Lombok dan etnik Sasak menjadi kemestian untuk mengetahui makna dibalik Islam Wetu Telu dan Waktu Lima dan sebagai cara melakukan rekonstruksi pemaknaan kembali, sehingga pengkajian perkembangan Hukum Islam pada Islam Wetu Telu dan Waktu Lima bisa dielaborasi secara komprehensif.
References
Ariadi, Lalu Muhammad. Haji Sasak: Sebuah Potret Dialektika Haji dengan Kebudayaan Lokal. Jakarta: Impressa, 2012.
Azhar, Lalu Muhammad. Sejarah Daerah Lombok: Arya Banjar Getas. Mataram: Yaspen Pariwisata Pejanggiq, 1997.
Badan Pusat Statistik Prop. NTB. NTB Dalam Angka 2005. Mataram: UD. Fajar Indah, 2005.
Budiwanti, Erni. Islam Sasak. Yogyakarta, LkiS, 2000.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan NTB. Buku Petunjuk Musem Nusa Tenggara Barat. Mataram: Museum NTB, 1991/1992.
--------. Bunga Rampai Kutipan Naskah Lama dan Aspek Pengetahuannya. ttp., Proyek Kajian Kebudayaan Daerah, 1990.
--------. Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1977/1978.
Djalaluddin Arzaki dkk. Nilai-nilai Agama dan Kearifan Budaya Lokal Suku Bangsa Sasak Dalam Pluralisme Kehidupan Bermasyarakat: Sebuah Kajian Antropologis-Sosiologis-Agamis. Mataram: Pokja Redam NTB-Indonesia, 2001.
Djelenge, Lalu. Keris di Lombok. Mataram: Yayasan Pusaka Selaparang, 1995.
E. Marrison, Geoffrey. Sasak and Javanese Literature of Lombok. KITLV Pres, Leiden.
Haris, Tawalinuddin. dalam Jurnal Kajian No. 1/Th. 1/Feb-Maret 2002
Hidayat, Komarudindit, Ahmad Gaus AF. Menjadi Indonesia, 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara. Jakarta, Mizan Media Utama, 2006.
Lukman. Lalu. Lombok. Mataram: Pokja, 2004.
Mattulada, Islam di Sulawesi Selatan. dalam Taufiq Abdullah, Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: CV Rajawali, 1983.
Mujib dan Achmad Cholid Sodrie. Khazanah Naskah Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Jakarta, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004.
Sudirman, Gumi Sasak dalam Sejarah. Pringgabaya: KSU Prima Guna, 2007.
Wallace, Alfred Russel. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia, dan Alam. terj. Tim Komunitas Bambu. Depok: Komunitas Bambu, 2009.
Van Der Kraan, Alfons. The Nature of Balinese Rule on Lombok.
Downloads
Published
Versions
- 2025-12-19 (3)
- 2025-12-19 (2)
- 2025-12-19 (1)
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Editor Inchief

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.




