Analisis Kritis Sejarah Peradaban Islam sebagai Basis Studi Islam di Perguruan Tinggi
Telaah Dinasti Golden Horde Dan Dinasti Ilkhan
DOI:
https://doi.org/10.37216/fikroh.v9i2.2654Kata Kunci:
Golden Horde, Dinasti Ilkhan, Sejarah, Asia Tengah, Studi IslamAbstrak
Penelitian ini mengkaji secara kritis kemajuan peradaban Islam pada masa kekuasaan Dinasti Golden Horde dan Dinasti Ilkhan, dua kekuatan politik yang muncul dari pecahan Kekaisaran Mongol. Dengan pendekatan analitis-komparatif dan berpijak pada kerangka berpikir tingkat tinggi (HOTS), studi ini mengeksplorasi bagaimana kedua dinasti tersebut—meskipun berasal dari latar belakang nomadik dan non-Islam—berhasil mengadopsi serta mentransformasikan nilai-nilai Islam ke dalam sistem pemerintahan, budaya, dan intelektual mereka. Dinasti Golden Horde dikenal karena peran strategisnya dalam menyebarkan Islam di wilayah Rusia dan Asia Tengah serta membangun struktur sosial-politik berbasis syariat. Sementara itu, Dinasti Ilkhan menunjukkan perkembangan luar biasa dalam bidang filsafat, sains, dan seni pasca-konversi penguasanya ke Islam. Penelitian ini tidak hanya menyoroti pencapaian monumental kedua dinasti, tetapi juga mengkritisi dinamika integrasi Islam dalam konteks kekuasaan Mongol yang semula asing terhadap tradisi tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa Islam mampu menjadi kekuatan transformatif bahkan dalam sistem kekuasaan yang otoriter dan multietnis, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap keberlanjutan peradaban global
Referensi
Abdul Karim, Islam Di Asia Tengah, (Yogyakarta: Bagaskara, 2006) Hal. 61. n.d.
Abdul Karim, Prof, MA., MA. Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, (Yogyakarta Pustaka Book Publisher, 2007) Hal. 297. n.d.
Abdurrahman, D. (1999). Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. n.d.
Al-Attas, S. M. N. (1993). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC. n.d.
Ali Mufrodi, Dr., Islam Di Kawasan Kebudayaan Arab, (Ciputat : Logos Wacana Ilmu, 1997), Hal. 128. n.d.
Arthur N. Waldron, The Mongol Period History of The Muslim Word (USA: Markus Wiener, 1994). n.d.
Badri Yatim, Dr., MA., Sejarah Peradapan Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), Hal. 111. 6. n.d.
Dengan Mengubah Dasar Perhitungan Kalender Lama Dari Syari’ah Ke Komariah. n.d.
Diantara Ajaran Yang Terdapat Dalam Kitab Ilyasa Adalah 1. Barangsiapa Yang Melakukan Hubungan Diluar Nikah, Maka Harus Dibunuh, Baik Yang Sudah Pernah Nikah Atau Belum. 2. Barngsiapa Yang Melakukan Hubungan Seksual Akan Dibunuh. 3. Barangsiapa Yang Berdusta Dengan Sengaja, Maka Dibunuh. 4. Barangsiapa Yang Menyihir, Maka Akan Dibunuh. 5. Barangsiapa Yang Buang Air Kecil Di Air Yang Tidak Bergerak, Maka Akan Dibunuh. 6. Dan Lain-Lain. Lihat : Ibnu Atsir, Al-Kamil Fi at-Tarikh (Beirut: Dar al-Fikr, 1986), Jilid XII. 360. n.d.
Diantara Contoh Penghormatan Bangsa Mongol Terhadap Rajanya Adalah: A. Taat Buta Sesuai Dengan Kemampuannya. b. Rakyat Mongol Harus Menyerahkan Anak Gadisnya Yang Berparas Cantik Kepada Rajanya Untuk Diperistri Dan Para Pembantunya Diberi Kebebasan Untuk Memilih Sisanya. c. Mereka Memanggil Rajanya Dengan Nama Aslinya. d. Barangsiapa Berjalan Melewati Orang Yang Sedang Makan, Ia Boleh Ikut Nimbrung Makan Bersamanya Tanpa Minta Izin Terlebih Dahulu. e. Para Ilmuwan Mereka Tidak Bisa Dikenakan Tindakan Hukum. f. Tamu Tidak Boleh Berdiri Di Depan Pintu Dan Tidak Boleh Mencuci Bajunya Kecuali Jika Sudah Kelihatan Kotor. Lihat : Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wa an-Nihayah (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), Jilid XIII. 119. n.d.
Hulako Khan Dilahirkan Semasa Hidup Jengis Khan Tepatnya Sepuluh Tahun Sebelum Meninggalnya Jengis Khan Tahun 614 H / 1217 M. Nasab Keturunannya Sebagaimana Dikatakan Oleh Sejarawan Adalah Hulaiɔ Khan Bin Tuli Khan Bin Jengis Khan. Ibnu Katsir Mengatakan: Hulako Khan Adalah Raja Mongol Bin Raja Mongol. La Adalah Anak Dari Raja-Raja Mereka, Orang Awam Menyebutnya Hulawun, Ibnu Katsir Menambahkan Bahwa Hulako Adalah Seorang Raja Yang Dictator, Sadis Dan Tidak Bermoral. Ia Bantai Kaum Muslimin Di Timur Dan Di Barat Dalam Jumlah Yang Besar Dan Hanya Allah Yang Tahu Berapa Jumlahnya, Dan Dia Tidak Menganut Agama Apapun. Lihat : Al-Bidayah Wa an-Nihayah, Jilid XIII, 248. n.d.
Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam Terjemah (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2003) Hal. 643. n.d.
Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah III, (Jakarta : Bulan Bintang, Cetakan Ke IV, 1981), Hal. 260. n.d.
Kepercayaan Keagamaan Orang-Orang Mongol Dan Praktek Ritual Ibadahnya Adalah Mengikuti Faham Shamanism, Yaitu Menyembah Matahari Dan Bersujud Kepadanya Ketika Terbit, Dan Diantara Syariatnya Adalah Tidak Mengharmkan Apapun Kepada Pengikutnya Untuk Makan Hewan Apa Saja Yang Mereka Temui Meskipun Sudah Menjadi Bangkai. Adapun Agama-Agama Samawi Yang Sampai Di Tengah-Tengah Mereka Karena Factor Invansi Bangsa Mongol Itu Sendiri, Misalnya Agama Islam Pengaruh Dari Persia Dan Daeah-Daerah Golden Holde, Agama Budha Pengaruh Dari Tibet Dan Persia Dan Agama Kristen Datang Dari Eropa. Lihat David Morgan, The Mongols (Cambridge: Black Well, 1986), 40-41. n.d.
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. , ( Rosdakarya, 1988), n.d.
Musyrifah Sunanto, Sejarah... Hal. 194. n.d.
Philif K. Hitti, History Of The Arabs. Terj. R. Cecep Lukman Dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi, 2008), Hal. 621. n.d.
Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), Hal. 219. n.d.
Tujuan Pembagian Wilayah Imperium Tersebut Sebenarnya Adalah Untuk Menciptakan Administrasi Yang Kokoh, Akan Tetapi Yang Terjadi Sebaliknya, Yaitu Merangsang Sejumlah Pertempuran Untuk Merebutkan Kekuasaan Di Kalangan Keturunan Jengis Khan, Yaitu Merebutkan Warisan Ayahnya. Hal Ini Disebabkan Oleh Sifat Ambiguitas Yang Melekat Di Dalam Konsep Kenegaraan Mongol. Lihat: Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies (USA: Cambridge University Press, 1988), 428. n.d.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Muh. Zakaria, Mursidin, Ahmad Subyanto

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.






