Mengurai Ketegangan Islam dan Lokalitas dengan Etnohermeneutik
Kata Kunci:
Islam Lokal, Etnohermeneutik, Universalitas IslamAbstrak
Artikel ini membahas ketegangan antara universalitas ajaran Islam dan keragaman budaya lokal yang menjadi ruang hidup umat Islam di berbagai wilayah. Selama ini, pemahaman keislaman cenderung didominasi oleh paradigma tekstual dan orientasi historis-Arab yang sering kali mengabaikan realitas sosial-budaya masyarakat Muslim non-Arab. Akibatnya, simbol-simbol budaya Arab kerap dianggap identik dengan ajaran Islam itu sendiri, sehingga memunculkan kecenderungan homogenisasi ekspresi keagamaan. Melalui pendekatan deskriptif-analitis dengan memanfaatkan perspektif hermeneutik dan etnohermeneutik, artikel ini menawarkan paradigma tafsir lokal sebagai alternatif dalam memahami dan membumikan ajaran Islam. Hermeneutik digunakan untuk menegaskan pentingnya peran horison penafsir, tradisi, dan konteks historis dalam proses pemaknaan teks, sedangkan etnohermeneutik menempatkan budaya penerima sebagai orientasi utama dalam proses interpretasi. Dengan pendekatan ini, teks-teks suci dipahami melalui dialog dinamis antara pesan universal Islam dan realitas budaya lokal yang melingkupi penafsir. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam tidak hadir dalam ruang budaya yang kosong, melainkan selalu berinteraksi dengan tradisi lokal dan melahirkan beragam ekspresi keislaman yang sah. Oleh karena itu, upaya kontekstualisasi ajaran Islam melalui paradigma tafsir lokal memungkinkan terwujudnya Islam yang lebih relevan, inklusif, dan berakar pada kearifan budaya setempat tanpa kehilangan nilai-nilai universalnya. Paradigma ini sekaligus membuka ruang bagi lahirnya bentuk-bentuk keberagamaan yang autentik sesuai dengan karakter sosial dan budaya masyarakat Muslim di berbagai daerah.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Fikroh

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.






